Dana Talangan Haji

“DANA TALANGAN HAJI”
بسم الله الرحمن الرحيم
Dewan Hisbah P.P Persatuan Islam pada sidangnya setelah :
1. Menimbang :
a. Kesadaran umat Islam terhadap pelaksanaan ibadah haji, baik yang belum berhaji maupun yang sudah setiap saatnya semakin meningkat
b. Kuota haji setiap tahunnya semakin sedikit setelah dibagi perkota/kubupaten
c. Dana talangan dianggap solusi untuk kesulitan dana kontan guna mendapatkan nomer porsi lebih cepat
d. Dana talangan haji termasuk al-‘ariyah (pinjaman) yang harus dikembalikan dengan tambahan beban biaya bagi peminjam (nasabah) yang besarnya bergantung atas lamanya pinjaman
e. Beban biaya yang menjadi tanggungan peminjam dalam Aqad dana talangan haji dinamai ujrah
f. Adanya kepentingan dari pihak bank untuk memamanfaatkan calon jamaah haji
g. Demi keabsahan dan kemabruran ibadah haji, Wajib pelaksanaannya bersih dari unsur-unsur yang tidak halal
h. Perlunya kejelasan hukum dana talangan haji tersebut
2. Memperhatikan :
a. Pengantar dan arahan dari Ketua Dewan Hisbah K.H Usman Shalehuddin
b. Presentrasi dari Direktur Bank Mandiri Syariah (BSM) Cabang Buah batu Bandung tentang dana talangan haji
c. Makalah dan pemaparan tentang masalah tersebut dari Ust Taufiq Rahman Azhar S.ag
d. Diskusi dan penilaian para anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam tentang masalah tersebut
3. Mengingat :
a. Firman Allah swt.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Q.s. An-Nisa : 29.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. البقرة : 275.
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Q.s. Al-Baqarah : 275.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. آل عمران : 130.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Q.s. Ali Imran : 130.
وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا. النساء : 161.
dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.Q.s. An-Nisa : 161.
وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ يَرْبُو عِنْدَ اللهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ. الروم : 39.
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). Q.s. Ar-Rum : 39.
b. Hadis Nabi Saw:
أَنَّ النَّبِيَ -صلى الله عليه وسلم- سُئِلَ : أَيُّ الكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ. رواه البزار وصححه الحاكم. ورواه الحاكم عن سعيد بن عمر عن عمه.
'Rasulullah saw. ditanya mengenai pekerjaan apa yang paling baik? Rasulullah saw. bersabda; '(yang paling baik) ialah pekerjaan seseorang dengan usaha dengan tangannya sendiri dan perdagangan yang mabrur (yang bersih/halal)." H.r. Al-Bazar dan dishahihkan oleh Al-Hakim. Dan Al-Hakim meriwayatkannya dari Said bin Umar dari pamannya.
لَعَنَ اللهُ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ. رواه البخاري ومسلم
Allah melaknat pemakan riba, yang memberi makannya, saksi-saksinya dan penulisnya." H.r. Al-Bukhari dan Muslim
لَدِرْهَمٌ رِبًا أَشَدُّ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ سِتٍّ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً
Untuk satu dirham riba disisi Allah lebih berat dari tiga puluh enam kali berzina menurut (ukuran) kesalahan." H.r. Ad-Daraquthni
لِلرِّبًا تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ بَابًا اَدْنَاهَا كَأَنْ يَأْتِيَ الرَّجُلُ بِاُمِّهِ.
Untuk riba ada 99 (sebilan puluh Sembilan) pintu dosa, yang paling rendah (derajatnya, seperti) seseorang yang menzinahi ibunya.
عَنْ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ أَنَّ النَّبِيَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ : اَلصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ ، إلاَّ صُلْحًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا. رواهُ أَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَزَادَ : الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا.). نيل الأوطار 8: 463.
Dari Amr bin Auf, bahwasanya Nabi saw. bersabda, 'Perjanjian boleh dilakukan diantara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." H.r. Abu Daud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi, dan ia menambah: "Dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." Nailul Authar.
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَضَانِي وَزَادَنِي
“Dari Jabir ra. aku datang kepada Nabi saw. dan beliau mempunyai utang kepadaku, beliau melunasinya dan menambahnya”. H.r Sahih Al-Bukhari, VI : 492, no. 2603.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ يَتَقَاضَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعِيرًا فَقَالَ « أَعْطُوهُ سِنًّا فَوْقَ سِنِّهِ - وَقَالَ - خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً ».
Dari Abi Hurairah ra. Seorang laki-laki dating dan menagih utangnya kepada Nabi saw. Berupa seekor unta, beliau bersabda, berikanlah kepadanya dengan unta yang lebih baik daripada unta itu, dan (beliau) bersabda, sebaik-baik diantara kamu adalah orang yang berbuat baik dalam pembayaran”. (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)
عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ  فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ يَقُولُ أَلَا إِنَّ كُلَّ رِبًا مِنْ رِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ لَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ أَلَا وَإِنَّ كُلَّ دَمٍ مِنْ دَمِ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ …-رواه ابو داود-
Sulaiman bin Amr dari ayatnya (Amar) mengatakan: aku mendengar Rasulullah saw. pada haji wada bersabda; ingat bahwa setiap riba dari riba jahiliyyah adalah tertolak dan batal (haram) bagi kamu adalah ruusu amwalikum (pokok harta kamu) kamu tidak mendzalim dan kamu tidak didzalimi, ingat setiap darah dari darah jahiliyyah adalah tertolak.... (Abu Daud)

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabari dalam kitab tafsirnya Jami’ul Bayan an ta’wiliayil Al Qur`an mengatakan:
إِنَّ الرَّجُلَ فِى الجَاهِلِيَّةِ يَكُونُ لَهُ عَلَى رَجُلٍ مَالٌ إِلىَ أَجَلٍ فَإِذَا أَجَلَ الأَجَلُ طَلَبَهُ مِنْ صَاحِبِهِ فَيَقُولُ الَّذِى عَلَيْهِ الدَّيْنُ: أَخِّرْ عَنِّي دِيْنَكَ وَأَزِيْدُكَ مَالَكَ. فَيَفْعَلاَنِ ذَلِكَ فَذَلِكَ هُوَ الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً فَنَهَاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى الإِسْلاَمِ عَنْهُ.
Sesungguhnya di zaman jahiliyyah menghutangkan hartanya sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian bila waktu yang telah ditentukan itu telah tiba, ia memintanya dari yang punya hutang itu, yang punya hutang itu
berkata: tangguhkanlah hutang itu dariku, nanti aku tambah hartamu, lalu keduanya sepakat, maka inilah riba adl’afan mudla’afah. (4 : 90)
Kitab-kitab tafsir mengemukakan pengertian riba adl’afan mudla’afatan adalah riba jahiliyyah dengan pengertian yang sama seperti yang dikemukakan oleh Thabari yaitu: tambahan beban disebabkan bertambah waktu.
c. Qaidah Fiqhiyyah
الأصل في العقود والمعاملاة الإباحة حتى يقوم الدليل على البطلان والتحريم
"Asal melakukan setiap kegiatan akad dan muamalah adalah boleh selama tidak ada dalil yang membatalkan atau mengharamkannya.
d.Takrif Riba
1. Didalam syara’ tambahan atas pokok harta yang diambil oleh yang menghutangkan dari orang yang berhutang, sebagai imbalan perpanjangan waktu. (Shafwatut Tafasir : 160)
2. adalah kelebihan atau tambahan pembayaran baik sedikit maupun banyak dari jumlah pinjaman yang diambil dari si peminjam oleh yang meminjamkan berdasarkan lamanya pinjaman
3. Hukum riba baik sedikit maupun banyak, konsumtif maupun produktif adalah haram.
4. Kelebihan pembayaran dari si peminjam atas dasar kebaikan atau ketulusan hatinya, dan bukan atas dasar syarat/perjanjian dari yang meminjamkan, bukan riba.
4.Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam Beristinbath :
===========
1. Aqad dalam dana talangan haji yang mensyaratkan “ujrah” (imbalan dari pinjaman) bagi talangan pinjaman uang sebesar biaya untuk mendapatkan nomer porsi lebih cepat disebut aqad “ijarah” tidak tepat.
2. Beban biaya yang ditanggung peminjam dana talangan haji termasuk syarat mendapat pinjaman dana talangan haji.
3. Besaran beban biaya yang ditanggung peminjam dana talangan haji bergantung atas lamanya waktu pelunasan pembayaran disebut ujrah tidak tepat.
4. Beban pembayaran yang ditanggung peminjam dana talangan haji umpamanya sebesar Rp 1.200.000 untuk satu tahun masa pelunasan pinjaman dan Rp 2.400.000 untuk dua tahun masa pelunasan pinjaman dan seterusnya adalah riba.
=============

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QANUN DAKHILI PERSATUAN ISLAM (PERSIS)