Menerima Wakaf dari Non Muslim

" MENERIMA WAKAF DARI NON MUSLIM"
بسم الله الرحمن الرحيم
Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:
MENGINGAT:
Firman Allah SWT,
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ، وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ - آل عمران: 92
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” Q.s. Ali Imran : 92.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ : " كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ الْأَنْصَارِ نَخْلًا بِالْمَدِينَةِ وَكَانَ أَحَبُّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءَ، وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةً الْمَسْجِدَ ، وَكَانَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ ، فَلَمَّا نَزَلَتْ : لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ قَالَ أَبُو طَلْحَةَ : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءُ ، إِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ - تَعَالَى - أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللهِ - تَعَالَى - فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللهِ بِحَيْثُ أَرَاكَ اللهُ - تَعَالَى - ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - : بَخٍ بَخٍ ، ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ ، وَقَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ ، وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ . فَقَالَ : أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللهِ ، فَقَسَّمَهَا أَبُو طَلْحَةَ بَيْنَ أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ "
Dari Anas, Abu Thalhah adalah seorang Anshar yang paling banyak kebun kurmanya di Madinah, dan diantara kebun kurma yang paling ia sukai adalah Bairuha, kebun tersebut menghadap mesjid.Nabi SAW sering memasukinya dan minum air yang segar di dalamnya, ketika turun ayat, "Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan sehingga kalian menginfakkan apa yang kalian sukai" Abu Thalhah berkata Wahai Rasulullah sesungguhnya kebun kurma yang paling aku sukai adalah Bairuha, sungguh aku shadaqahkan kepada Allah aku mengharap kebaikan dan simpanan di sisi Allah SWT, maka tetapkanlah ya Rasulallah sesuai dengan pandangan Allah SWT kepadamu, lalu Rasulullah SAW bersabda, waduh, waduh , hal itu adalah harta yang menguntungkan, sungguh aku mendengar apa yang engkau katakan, dan sesungguhnya aku berpendapat agar engkau menjadikannya shadaqah bagi para kerabat, lalu ia berkata, aku akan melakukan hal itu wahai Rasulullah, kemudian Abu Thalhah membagikan hasilnya kepada kerabat dan keturunan pamannya. Hr. Al Bukhari.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ الله عَنْهُ لَمَّا قَدِمَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ أَمَرَ بِبِنَاءِ الْمَسْجِدِ وَقَالَ ( يَا بَنِي النَّجَّارِ ثَامِنُوْنِي بِحَائِطِكُمْ هَذاَ ) . قَالُوْا لا َوَاللهِ لاَ نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلاَّ إِلَى اللهِ
Dari Anas Bin malik r.a ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah beliau memerintah membangun mesjid, beliau berkata wahai Bani Najar tetapkanlah oleh kalian harga tanah kalian ini ! mereka berkata, demi Allah kami tidak akan mengambil harganya kecuali kepada Allah. Hr. Al Bukhari
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ - رواه مسلم والترمذي والنسائي وأبو داود -
" Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah (pahala) amal perbuatannya kecuali dari tiga hal, yaitu kecuali dari sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shaleh yang mendoakannya” Hr. Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Abu Daud.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَصَابَ أَرْضًا بِخَيْبَرَ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالاً قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ، فَمَا تَأْمُرُ بِهِ؟ قَالَ: إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا، قَالَ: فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ، وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ. قَالَ: فَحَدَّثْتُ بِهِ ابْنَ سِيرِينَ، فَقَالَ: غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ مَالاً – رواه البخاري ومسلم والترمذي و النسائي-
“Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Umar bin al-Khaththab r.a. memperoleh tanah (kebun) di Khaibar; lalu ia datang kepada Nabi s.a.w. untuk meminta petunjuk mengenai tanah tersebut. Ia berkata, “Wahai Rasulullah! Saya memperoleh tanah di Khaibar; yang belum pernah saya peroleh harta yang lebih baik bagiku melebihi tanah tersebut; apa perintah Engkau (kepadaku) mengenainya?” Nabi s.a.w. menjawab: “Jika mau, kamu tahan pokoknya dan kamu sedekahkan (hasil)-nya.” Ibnu Umar berkata, “Maka, Umar menyedekahkan tanah tersebut, (dengan mensyaratkan) bahwa tanah itu tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan. Ia menyedekahkan (hasil)-nya kepada fuqara, kerabat, riqab (hamba sahaya), sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak berdosa atas orang yang mengelolanya untuk memakan dari (hasil) tanah itu secara ma’ruf (wajar) dan memberi makan (kepada orang lain) tanpa menjadikannya sebagai harta hak milik.” Rawi berkata, “Saya menceritakan hadis tersebut kepada Ibnu Sirin, lalu ia berkata ‘ghaira muta’tstsilin malan (tanpa menyimpannya sebagai harta hak milik)’.” H.r. Al-Bukhari, Muslim, al-Tirmidzi, dan al-Nasa’i.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ ا للهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ مُؤْمِناً حَسَنَةً، يُعْطَى عَلَيْهَا فِي الدُّنْيَا، وَيُثَابُ عَلَيْهَا فِي الآخِرَةِ، وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُعْطِيْهِ حَسَنَاتِهِ فِي الدُّنْيَا، حَتىَّ إِذَا أَفْضَى إِلَى الآخِرَةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ بِهَاحَسَنَةٌ يُعْطَى بِهَا خَيْرًا» أحمد.
Dari Anas bin Malik r.a ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi seorang mukmin kebaikannya, akan dibalas di dunia dan di akhirat, adapun orang kafir akan diberi kebaikan di dunia dan ketika sampai di akhirat, kebaikan yang dilakukannya tidak akan mendatangkan kebaikan. H.r. Ahmad.
MEMPERHATIKAN :
1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Sholehuddin
2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA.
3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: Drs. KH. Uus Muhammad Ruhiat
4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas
MENIMBANG:
1. Telah terjadi di kalangan masyarakat, non muslim menyumbangkan hartanya yang kemudian dinyatakan wakaf.
2. Adanya keraguan dari kaum muslimin untuk menerima dan memanfaatkan pemberian dari non muslim untuk kepentingan sarana ibadah.
3. Ada kekhawatiran masuknya kepentingan-kepentingan tertentu dibalik pemberian tersebut.
4. Ada kekhawatiran berkurangnya kesadaran kaum muslimin untuk mewakafkan hartanya.
5. Muslim menerima pemberian dari non muslim yang hanya sekedar hubungan sosial adalah mubah.
6. Perlu adanya kejelasan dan ketegasan status hukum tentang masalah tersebut.
Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam
MENGISTINBATH :
1. Menerima wakaf dari non muslim hukumnya mubah.
2. Menerima wakaf dari non muslim yang akan memadharatkan islam dan kaum muslimin hukumnya haram.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QANUN DAKHILI PERSATUAN ISLAM (PERSIS)