Turun Sujud
TURUN SUJUD ; TANGAN ATAU LUTUT DULU
BURUKUL BA'IR (KAIFIYAT TURUN UNTUK SUJUD)”
بسم الله الرحمن الرحيم
بسم الله الرحمن الرحيم
Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:
MENGINGAT:
1. Hadis-hadis tentang keharusan mengikuti kaifiat salat Rasulullah saw., antara lain
1. Hadis-hadis tentang keharusan mengikuti kaifiat salat Rasulullah saw., antara lain
إِنَّمَا
صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوْا بِيْ
وَلِتَعْلَمُوْا صَلاَتِيْ
"Ini aku lakukan tiada lain agar kamu bermakmum
kepadaku dan mengetahui salatku," H.r. Al-Bukhari, Shahih
al-Bukhari, I:310
صَلُّوْا
كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ
"Salatlah kalian sebagaimana kalian mengetahui
bagaimana tata cara salatku," H.r. Al-Bukhari, Shahih
al-Bukhari, I:226
2. Hadis-hadis tentang kaifiat turun untuk sujud
diriwayatkan dalam dua cara yang bertentangan
a. Mendahulukan lutut sebelum tangan
عَنْ
وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ:
رَأَيْتُ رَسُولَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ
يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ
قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
Dari Wail bin Hujr, ia berkata, “Aku melihat
Rasulullah saw. bila hendak sujud beliau menyimpan kedua lututnya
sebelum kedua tangannya, dan bila bangkit beliau mengangkat kedua
tangannya sebelum kedua lututnya.” H.r. At-Tirmidzi, Abu Daud,
An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hiban, Al-Baihaqi, Al-Khatib Al-Bagdadi,
Ibnu Khuzaimah, Ad-Daraquthni, At-Tabrani, dan Ad-Darimi. Semuanya
melalui rawi Syarik bin Abdullah an-Nakha’i. Dan dalam riwayat
al-Haitsami melalui rawi Israil bin Yunus (Mawaridhud Zham-an, hal.
132 No. 487)
عَنْ
أَنَسٍ قَالَ: رَأَيْتُ
رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَبَّرَ ... ثُمَّ
إنْحَطَّ بِالتَّكْبِيْرِ حَتَّى سَبَقَتْ
رُكْبَتَاهُ يَدَيْهِ.
Dari Anas bin malik, ia berkata, “Aku melihat
Rasulullah saw. bertakbir... Kemudian beliau turun (ke sujud) sambil
bertakbir sehingga kedua lututnya mendahului kedua tangannya.” H.r.
Al Baihaqi, As-Sunanul Kubra II:99; Ad-Daraqutni, Sunan Ad-Daraqutni
I:345; Al Hakim, Al Mustadrak I: 226. Redaksi hadis di atas adalah
riwayat al-Baihaqi.
عَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ
بِرُكْبَتَيْهِ قَيْلَ يَدَيْهِ وَلاَ
يَبْرُكْ بُرُوْكَ الْجَمَلِ.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. ia bersabda,
“Apabila seseorang di antara kamu sujud, maka mulailah dengan kedua
lututnya sebelum kedua tangannya dan janganlah menderum seperti
menderum(turun untuk duduk)nya unta.” H.r. Al-Baihaqi, As-Sunanul
Kubra, II:100 dan Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, I:295
b. Mendahulukan tangan sebelum lutut
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ
كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ
يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
Dari Abu Huraerah, ia berkata, “Rasulullah saw.
bersabda, “Apabila seseorang hendak sujud, maka janganlah menderum
seperti menderumnya unta, dan hendaklah ia menempatkan kedua
tangannya sebelum kedua lututnya". H.r. Ahmad, Abu Daud,
An-Nasai, Al-Baihaqi, Ad-Daraquthni, dan Ad-Darimi.
Semuanya melalui rawi Abdul Aziz bin Muhamad
Ad-Darawardi.
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَ النَّبِيَّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
يَعْمِدُ
أَحَدُكُمْ فَيَبْرُكُ فِي صَلاَتِهِ
بُرُوْكَ الْجَمَلِ
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw. bersabda,
“Seseorang di antara kamu bersandar kemudian ia menderum dalam
salatnya sebagaimana menderumnya unta.” H.r. At-Tirmidzi, Tuhfatul
Ahwadzi, II : 136 dan Abu Daud, Aunul Ma’bud III : 51
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا
سَجَدَ يَضَعُ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ.
Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah saw. bila
hendak sujud, beliau menempatkan kedua tangannya sebelum kedua
lututnya. H.r. Ad-Daraquthni, Sunan Ad-Daraquthni, I : 27
MENDENGAR:
1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Shalehudin
2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis K.H. Drs. Shiddiq Amien, MBA
3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: K.H. Muhamad Romli
4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas
1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Shalehudin
2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis K.H. Drs. Shiddiq Amien, MBA
3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: K.H. Muhamad Romli
4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas
MENIMBANG:
1. Hadis-hadis tentang kaifiyat turun untuk sujud diriwayatkan dalam dua cara yang bertentangan (mendahulukan lutut dan mendahulukan tangan).
2. Perlu kejelasan tentang status/derajat hadis-hadis tersebut.
3. Hadis-hadis kaifiyat turun untuk sujud dengan mendahulukan lutut derajatnya sahih, baik yang marfu (sabda dan amal Rasul) maupun yang mauquf (amal Umar bin Khatab), karena Syarik bin Abdullah an-Nakha’i meriwayatkan hadis itu sebelum ikhtilat (pikun), sebelum menjadi Qadi di Kufah. Di samping itu riwayatnya diperkuat oleh rawi lain bernama Israil bin Yunus.
4. Hadis-hadis kaifiyat turun untuk sujud dengan mendahulukan tangan derajatnya daif, baik yang marfu maupun mauquf, karena semua sanadnya melalui rawi yang daif, yaitu Abdul Aziz bin ad-Darawardi yang sayyiul hifzhi (buruk hapalan). Demikian pula mutabi'nya melalui rawi Abdullah bin Nafi as-Shaig yang juga sayyiul hifzhi.
5. Perlu kejelasan dan ketegasan tentang kaifiyat turun untuk sujud.
Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam
1. Hadis-hadis tentang kaifiyat turun untuk sujud diriwayatkan dalam dua cara yang bertentangan (mendahulukan lutut dan mendahulukan tangan).
2. Perlu kejelasan tentang status/derajat hadis-hadis tersebut.
3. Hadis-hadis kaifiyat turun untuk sujud dengan mendahulukan lutut derajatnya sahih, baik yang marfu (sabda dan amal Rasul) maupun yang mauquf (amal Umar bin Khatab), karena Syarik bin Abdullah an-Nakha’i meriwayatkan hadis itu sebelum ikhtilat (pikun), sebelum menjadi Qadi di Kufah. Di samping itu riwayatnya diperkuat oleh rawi lain bernama Israil bin Yunus.
4. Hadis-hadis kaifiyat turun untuk sujud dengan mendahulukan tangan derajatnya daif, baik yang marfu maupun mauquf, karena semua sanadnya melalui rawi yang daif, yaitu Abdul Aziz bin ad-Darawardi yang sayyiul hifzhi (buruk hapalan). Demikian pula mutabi'nya melalui rawi Abdullah bin Nafi as-Shaig yang juga sayyiul hifzhi.
5. Perlu kejelasan dan ketegasan tentang kaifiyat turun untuk sujud.
Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam
MENGISTINBAT:
=============
Kaifiyat turun untuk sujud setelah i'tidal ba'da ruku adalah dengan mendahulukan lutut kemudian tangan dan ketika bangkit mendahulukan tangan kemudian lutut.
=============
Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.
=============
Kaifiyat turun untuk sujud setelah i'tidal ba'da ruku adalah dengan mendahulukan lutut kemudian tangan dan ketika bangkit mendahulukan tangan kemudian lutut.
=============
Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.
Komentar
Posting Komentar